Jumat, 30 Juni 2017

Kami Tak Pernah Berikar Sebagai Sahabat

Kami Tak Pernah Menyebut Sebagai Sahabat


Ngomongin soal sahabat itu emang bikin baper sih. Bingung juga. Hahaha. Apalagi embak itu gampang kenal dan dekat dengan semua orang. Gampang ngobrol dan ngoceh ngalor ngidul. Tetapi seiring beranjaknya waktu dan usia, embak semakin selektif dengan siapa mencurahkan segala uneg-uneg hati. Cerita hal paling remeh sampai paling penting. Apalagi sejak kejadian yang tak mengenakkan beberapa waktu lalu. Cukuplah menjadi satu pelajaran bagi embak. Boleh berteman dengan siapa saja tetapi jangan gampang curhat!

Sebenarnya ingin menuliskan seseorang yang telah menemani embak melewati berbagai hal. Tempat embak menumpahkan segala rasa tanpa pernah merasa khawatir. Tapi embak nyadar, sekarang waktunya belum tepat. Semoga lain waktu embak bisa menuliskannya secara khusus ya. Doakan. Untuk arisan yang digawangi Mbak Tina dan Mbak Nunung, embak mau menuliskan tentang sahabat embak yang lain.

Tita Pradiptia. Begitulah nama yang tertera di KTP. Tita nama panggilan yang teman-teman berikan termasuk embak. Sedangkan di rumah dia biasa dipanggil Ita. Tita adalah teman kos sewaktu embak masih bertugas di kantor lama. Kudus menjadi kota perjumpaan kami. 

Kami sama-sama perantau dan meniti karir di perusahaan berbeda. Praktis walau satu kos ketemu paling malam doank. Itu juga hanya sebatas saling sapa karena kamar kami berdampingan. Juarang banget hari kerja kami bisa ngobrol usai pulang kerja. Paling sering pas weekend saat kami nggak pulang atau keluar kota. Profesi dia sebagai banker yang menangani kredit makro membuatnya lebih sering pulang malam. Sedangkan embak tergantung ritme pekerjaan saja. Kadang lembur, kadang enggak.

Dolan bareng setelah sekian lama drama wkwkkwk
Embak nggak pernah tahu kenapa bisa cocok sama Tita. Perbedaan jelas banyak banget. Nggak usah ditanya deh. Hahaha. Dari segi penampilan jelas berbeda banget. Dia modis dan stylish, embak suka sembarangan kalau dandan. Dia suka warna-warna kalem (tepatnya menuju gelap) semacam coklat, abu-abu, hitam, sedangkan embak suka warna cerah ceria. Kami sama-sama suka membaca tapi jenis bacaannya juga beda. Tita gandrung dengan koleksi novel bahasa Inggris, sedangkan embak lebih banyak bahasa Indonesia. Umur kami hanya selisih satu tahun tapi dia paling kesel dan enggak pernah mau dipanggil "mbak". Hahaha.

Katanya perbedaan itu indah ketika kita mampu menghargainya. Embak belajar banyak dari Tita. Walaupun ada garis perbedaan yang jelas diantara kami, tak sedikitpun kami saling menuntut untuk menjadi siapa. Kami jadi diri masing-masing. Kami tetap bisa saling menghargai satu sama lain.

Kudus hanyalah sebuah kota kecil di pantura. Kalau teman-teman berseloroh, kota Kudus cukup dikelilingi sehari sudah selesai. Mall hanya satu doank. Jaman embak di sana belum ada bioskop. Jam 9 malam kota kretek ini sudah sepi. Banyak teman embak yang nggak kerasan di kota ini. Terutama mereka yang notabene sejak kecil hidup di kota besar. Tapi bagi Tita itu nggak masalah. Lahir dan besar di Jakarta tak membuat dia nyesel dan benci penempatannya. Justru dia mencari kesibukan lain. Setiap weekend dia ngajar anak-anak TK di sebuah desa. Yap. Dia sangat mencintai anak-anak.

Namanya temenan, satu kost, pasti adalah ya namanya kesel-keselan. Apalagi kalau kamar dia berantakan embak pasti orang pertama yang paling sering ngomel-ngomel. Belum lagi kalau curhat-curhatan masalah gebetan. Dia yang paling sering kena omel. Hahaha. Kalau ini rahasia deh yaaa siapa mantan gebetan masing-masing. Wkwkwkwkw ampun Taaaaa!


Foto alay ini harus dipajang! Wkwkwkwkwk

Merawat persahabatan dengan cara kami sendiri

Semenjak dimutasi ke Semarang, embak masih berkomunikasi dengan Tita. Kami sering pergi bareng jika dia main ke Semarang. Seperti biasa setiap ketemu nggak akan pernah bisa berhenti bercerita. Entah tentang kerjaan, gebetan, kabar keluarga atau buku baru. 

Tak pernah terucap dari bibir bahwa kami bersahabat. Kami hanya bisa memahami dan menghargai satu sama lain. Jika lagi waras semua, kadang kami saling menasehati. Sering kami bercerita soal kerjaan masing-masing. Saling menguatkan jika sudah eneg dan mentok dengan kerjaannya. Tita teman puasa sunah senin kamis dan selalu ngingetin buat nggak lupa ngaji. Bahkan suatu hari pernah tercetus ide bahwa suatu hari nanti kami akan umroh bareng. Semoga suatu saat nanti kesampaian ya, Ta. Walau kamu sudah umroh dengan ibuk, tetap mau berangkat bareng lagi kan?

Katanya teman yang baik adalah mereka yang memberikan insight kepada diri kita. Mereka membuat kita lebih melek dan membuka mata. Dari Tita embak belajar banyak banget.

Doakan kami tetap menjadi teman terbaik selamanya ya! Aamiin!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar