Senin, 24 Oktober 2016

Pergantian Atasan Menjelang Akhir Tahun

Pergantian Atasan Menjelang Akhir Tahun





"Mbak, bapakku pindah ke tempatmu,"ujar seorang teman pelan. Sore itu kami sedang menunggu menu makan malam usai mengikuti code of conduct. Bahasa gahulnya sih sharing dan diskusi antar bagian. Kebetulan salah satu sesinya adalah pembagian surat keputusan (SK).

"Pindah ke tempatku? Jadi staff?" tanya saya cuek.

"Enggak. Jadi supervisor. Gantiin bapakmu."

"Hahhhhhhhhhh?"

Keinginan saya untuk foto-foto pecicilan sirna sudah. Saya ndomblong memandang teman saya penuh tanda tanya. Meminta penjelasan kebenaran kabar yang baru saja disampaikan. Saya memang tak menghiraukan hiruk pikuk yang menerima SK. Saya yang kebetulan ngemsi, langsung disuruh bantu-bantu bagi SK. Saya pikir memang hanya SK talenta yang keluar setahun dua kali karena saat dibagi, semua pegawai dapat jatah dua amplop. Nggak kepikiran sama sekali kalau ada SK mutasi.



"Iya, Mbak. Beneran pindah tempatmu dan gantiin bapakmu. Bukan sebagai staff."


Wajah saya pias. Tak ada angin tak ada hujan. Tahu-tahu atasan diganti begitu saja. Selama ini yang ada justru gosip rotasi para staff yang masa kerjanya telah melewati tiga tahun. Satu hal lagi yang bikin nyesek dan air mata meleleh, saat itu supervisor saya sedang dinas. Beliau juga sama sekali nggak ngerti tentang pergantian ini. Seeeediiiiiiiiiihhhh.


"Udah, Tar. Jangan nangis terus. Lagipula pindahnya kan hanya di meja sebrang," hibur teman yang lain.

"Cup...cup...cup. Nggak enak diliat yang lain. Nanti dikira kamu nggak mau dapat atasan baru. Udah berhenti nangisnya."


Sebenarnya saya sendiri bingung nangis karena apa. Banyak hal yang bikin nangis sih. Sedih kok pergantiannya mendadak. Menjelang akhir tahun pulak. Sedih kok ngasihin SK-nya nggak nunggu supervisor saya ada di tempat. Rasanya gimana gitu. Banyak hal yang berkecamuk di kepala. Sedih masih banyak pekerjaan yang belum sepenuhnya saya kuasai. Rasanya ilmu yang saya punya masih terlampau dangkal. Belum siap untuk ditinggal. Aaaahhh nyesek. 

Kurang lebih dua minggu terakhir di bulan September saya berada di masa-masa kacau balau. Bawaannya pengen nangis terus. Nggak di kantor. Nggak di kosan. Kerja enggak konsen. Padahal kerjaan lagi banyak-banyaknya. Gimana coba? Berjuang menyelesaikan kerjaan setengah mati beratnya.

Perasaan tidak ikhlas dengan pergantian atasan memang mengganggu pikiran. Hanya saja saya bisa apa? Saya hanya bisa berusaha menerima, mengiklaskan dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Di kantor saya sering berujar "everything will be okay" pada teman-teman. Sampai saat muka saya persis angka dan excel, atau saya sudah gemas dengan unit-unit, teman saya akan menggunakan kalimat itu untuk mengingaatkan. 

"Udah kamu jangan sedih terus, Tar. Gapapa kok. Siapa tahu nanti penggantiku jauh lebih baik. Punya terobosan-terobosan baru sehingga kinerja kita lebih baik."



Piknik rame-rame :D

Sepenggal nasehat dari supervisor saya saat kami berdiskusi soal pergantian ini. Hiks. Nggak kebayang aja sih gimana rasanya pulang dinas malah mejanya ditempati orang lain.

Mungkin inilah saatnya saya membuktikan omongan sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Walau rasanya berat tapi yakinlah surat keputusan itu tidak salah. Semua tentu telah dipertimbangkan masak-masak oleh pembuat keputusan diatas sana. Harapan saya semoga ini keputusan terbaik diantara yang paling baik. Semoga.


Mutasi dan rotasi bukan hal baru lagi di kantor saya. Selama bekerja saya sudah pernah berganti supervisor enam kali. Supervisor yang baru per November nanti berarti yang ketujuh. Sedangkan untuk atasan tidak langsung (diatas supervisor) juga sudah tujuh kali. Pergantian demi pergantian tentu menyisakan rasa sedih ya. Apalagi menjelang akhir tahun gini. Alamaaakkk banyak hal yang kudu dikerjakan dengan tenaga super ekstra. 


Saya harus move on

Rasa sedih membuat semangat kerja luntur perlahan. Ini nggak bisa dibiarkan. Di satu sisi saya memang masih sedih. Di sisi lain saya harus mengejar beberapa ketertinggalan. Terutama pekerjaan-pekerjaan yang selama ini banyak dipegang supervisor. Waktu yang sempit harus saya manfaatkan sebaik mungkin. Memang sih supervisor saya hanya bergeser meja dan tentu masih mau ditanya-tanya. Tapi kan akan menambah beban beliau. Secara punya tanggung jawab baru. Biar nggak oleng dan gedumbrangan saat supervisor baru masuk, saya dan teman sepakat melakukan beberapa hal :



Sharing ilmu : beberapa pekerjaan yang menjadi tanggung jawab atasan harus kami pelajari betul-betul. Bukan ingin ikut campur atau mengambil alih sih. Tapi lebih untuk persiapan menyambut atasan baru. Beliau pasti masih penyesuaian juga, kan? Nggak mungkin langsung bisa tancap gas. Selain itu juga buat berjaga-jaga jika orang lain bertanya tentang pekerjaan atau laporan. Sekali pun yang ditanya atasan baru, kalau nggak tahu pasti balik lagi kami yang jawab, kan? Hehehe.

Ngelist pekerjaan-pekerjaan yang belum selesai : biar nggak kelimpungan, pekerjaan-pekerjaan yang masih on progress ada baiknya dilist. Jadi gampang memetakan mana yang harus didahulukan selain pekerjaan rutin sehari-hari. Mana yang harus dikoordinasikan dengan beberapa orang. Dengan begitu akan ketahuan pekerjaan-pekerjaan yang masuk prioritas satu, dua dan seterusnya.

Bikin catatan khusus : walau jaman sudah serba online, saya tetap mengandalkan catatan manual untuk beberapa hal tertentu. Kayak atasan mau pindah gini, saya udah bikin catatan manual alias tulis tangan step by step beberapa pekerjaan. Jadi kapan pun saya butuh tinggal buka buku pinter. Rempong? Awal-awalnya doank sih. Trik ini sangat membantu saya yang notabene pelupa tingkat akut.

Minta nasehat sama atasan : hal ini beneran saya lakuin lho. Saat supervisor saya tahu tentang rotasi dan sudah menerima SK, kami berbincang banyak hal. Dari perbincangan itu saya mendapatkan banyak nasehat. Mulai dari gimana trik menghadapi atasan baru sampai hal-hal kecil lain.


Kekhawatiran yang beralasan


Bandung awal tahun ini. Genk anggaran komplit cuy :)))

Kesekian kali berganti dengan atasan baru, harusnya saya biasa-biasa aja yak. Atasan saya yang ini memang warbiyasak pinter dan baik. Pembagian pekerjaan yang adil membuat saya dan teman lebih gampang mengikuti ritme beliau. Kesepakatan tidak tertulis di awal tahun membuat kami menjadi satu tim yang solid. Jika salah satu nggak masuk, otomatis yang lain bisa back up. Kebayang kan sudah bekerja dalam satu tim yang solid tiba-tiba harus diganti?

Saya bukan orang yang parnoan. Hanya saja kali ini saya terlalu mengkhawatirkan bagaimana bekerja dengan orang baru dipenghujung tahun. Bukan hal yang mudah. Apalagi load pekerjaan sedang padat-padatnya. Ibaratnya lari sudah hampir finish tapi harus balik lagi ke start. Ritme yang telah dibangun belum tentu smooth lagi jalannya.

Life must go on! Apapun itu harus dijalani. Tinggal menghitung hari atasan baru saya menempati kursinya. Doakan saya, ya! Semoga tingkat kewarasan tetap terjaga biar bisa fokus mengejar target.

Ada yang senasib dengan saya?



Semarang, 17 Oktober 2016

@tarie_tarr


9 komentar:

  1. Semoga hari hari ke depan tambah baik dan sukses ya :)

    BalasHapus
  2. Semangat Taro, perubahan pasti selalu ada jadi kita harus siapkan diri menghadapinya. Pasti juga klik kok dengan boss baru cup cup..

    BalasHapus
  3. Tetap semangat Mbak Tari. Pasti ada hal unik dan menarik di tempat yg baru. Dan lebih menyenangkan dari sebelumnya, ya :)

    BalasHapus
  4. Ayo semangat mba Tar, di sini pun sudah sering gonta-ganti karyawan.
    Yah mau bagaimana. Pokonya kudu semangat move on, jangan sedih ya mba.

    BalasHapus
  5. Semoga atasan barunya nanti nggak kalah oke dari yg sebelumnya. Jangan nangis lagi ya tante Taro...sini, biar dipeluk Kenzie :D

    BalasHapus
  6. Paling gak enak emang ya mak klo udah klop sama atasan terus tiba2 diganti. Harus penyesuaian lagi dengan gaya kerja atasan yang pasti akan berbeda.

    BalasHapus
  7. Semangat mba, InsyaAllah yg terbaik..
    mb tari bisa melaluinya InsyaAllah

    BalasHapus
  8. Duh Mbak, patut bersyukur eut bisa ngerasain atasan yang macem2 karakternya. Nah, aku? Selama kerja ya gini aja. Jenuh Mbak. Sedihnya lagi kalau atasan yang gitu2 aja. Hiks.

    BalasHapus
  9. waktu masih ngantor, saya paling deg-degan kalau udah urusan rotasi. Apalagi kalau trus dapat atasan yang kurang asik

    BalasHapus