Rabu, 14 Oktober 2015

Lunpia, Jajanan Gurih Melegenda


Di suatu siang yang cerah masuk sebuah whatsapp dari seorang sahabat...

"Tar, aku pengin makan lunpia khas Semarang. Pasti cita rasanya berbeda. Temenin ya?"

"Yaudah kapan mau ke sini? Bisa diaturlah kalau soal itu. Mau berapa biji?"

"Paling cuma satu dua biji. Yang penting udah pernah makan di tempatnya langsung"

Lunpia goreng khas Semarang 

Siapa yang belum pernah mendengar soal lunpia khas Semarang? 
Oleh-oleh apa yang dicari jika berlibur atau sedang dinas di Semarang?
Kuliner apa yang ingin dicicipi saat merencanakan liburan ke Semarang?

Lunpia tetap menjadi sang primadona


Semenjak pindah kantor Maret 2013 silam, beberapa teman di dunia maya sudah ada yang bertandang ke Semarang. Selain kopdar dengan cewek kalem berjilbab ini, kulineran memang menjadi agenda utama disamping mengunjungi tempat bersejarah. Dua tahun hidup menumpang di kota Atlas membuat lidah senantiasa bergoyang dengan aneka ragam kulinernya. Mulai dari warung tenda sederhana hingga kelas restoran. Tinggal pilih.

Setiap ada teman yang bertandang ke Semarang, saya selalu merekomendasikan lunpia menjadi salah satu kuliner wajib yang harus dicicipi. Belum afdhol kalau ngomong ke Semarang tapi nggak nyicipin lunpia di tempatnya langsung. Sensasinya akan berbeda apabila lunpia dibungkus dan dimakan di tempat lain. Padahal kalau boleh jujur, dulu saya nggak doyan lunpia. Alasan utama karena berbahan dasar rebung! Saya pernah mengalami trauma oleh sayur rebung. Semenjak itu saya nggak pernah dan nggak mau makan masakan berbahan dasar rebung. Hahaha. Hanya saja sejak tinggal di Semarang saya merasa tertantang untuk mencicipi jajanan tersohor itu. Lucu saja kalau menyarankan teman makan lunpia, tapi saya sendiri nggak doyan. Hingga pada akhirnya saya ketagihan pada jajanan berbahan dasar rebung dengan campuran daging ayam atau udang dibalut dengan kulit tipis yang disebut kulit lunpia.

Pengejaan kata untuk jajanan ini memang berbeda-beda. Ada yang menyebut "lunpia" atau "lumpia". Semuanya benar, tergantung dialek masing-masing. "Lun" atau "lum" berarti lembut atau lunak, sedangkan "pia" berasal dari dialek Hokian (Tiong Hoa) yang berarti kue. 

Kisah di balik lahirnya lunpia

Lunpia lahir berkat tangan Tjoa Thay Joe orang asli Fujian dan Mbak Wasih orang asli Jawa pada abad ke-19. Tjoa Thay Joe berhijrah dan menetap di Semarang dengan membuka bisnis makanan pelengkap khas Tiong Hoa yang berisi daging babi dan rebung. Sedangkan Mbak Wasih berjualan makanan yang hampir sama tetapi dengan rasa lebih manis dan berisi kentang juga udang.

Keduanya saling jatuh cinta dan menikah. Mereka memutuskan melebur bisnis yang dijalankan dengan memberi beberapa sentuhan perubahan. Ternyata sentuhan tersebut membuat rasa makanan lintas budaya Tiong Hoa-Jawa ini menjadi semakin sempurna. Mereka menggunakan ayam atau udang dengan campuran rebung yang dibungkus oleh kulit lunpia. Keunggulan dari kolaborasi Tiong Hoa-Jawa ini adalah udang dan telur tidak amis, rebungnya manis, juga kulit lunpianya renyah saat digoreng. Jajanan ini dipasarkan di Olympia Park, sebuah pasar malam Belanda tempat mereka biasa berjualan berdua. Sehingga jajanan ini dikenal dengan nama "lunpia" atau "lumpia". Jajanan ini mulai dikenal di Semarang ketika pesta olahraga GANEFO yang diselenggarakan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno tahun 1963-1966. Usaha Tjoa Thay Joe dan Mbak Wasih semakin membesar hingga diwariskan kepada Siem Gwan Sing-Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal mereka. 

Jenis-jenis lunpia

Berdasarkan cara penggolahan ada dua jenis lunpia, yaitu basah dan goreng. Lunpia basah dibuat dari kulit lunpia yang diisi dengan campuran rebung, udang atau daging ayam lalu digulung. Sedangkan lunpia goreng, sebelum disajikan harus digoreng terlebih dahulu hingga berwarna kuning kecoklatan. 


Lunpia basah dan goreng
Ditilik dari sejarahnya, ada 6 jenis lunpia yang bisa dicicipi di Semarang. Dimana tiga diantaranya merupakan kerabat dari pencetus lunpia pertama kali, Tjoa Thay Joe dan Mbak Wasih.

1. Lunpia Gang Lombok (Siem Swie Kiem)

Siapa yang nggak kenal dengan lunpia Gang Lombok? Para wisatawan pasti akan mencari lunpia ini saat bertandang ke Semarang. Enggak usah heran kalau sampai di sana harus antre. Kios lunpia ini kecil jadi harus ikhlas bergantian jika makan di tempat. Berbeda dengan penjual lunpia pada umumnya, penyajian lunpia di sini ada tambahan daun selada. Kekhasan lunpianya terdapat pada racikan rebung tidak bau, campuran telur dan udang tidak amis.

Lunpia Gang Lombok
Lunpia yang terletak di Gang Lombok 11, merupakan generasi ketiga  atau tertua di Semarang. Usaha lunpia ini digawangi oleh Siem Swie Kiem yang meneruskan usaha sang Ayah, Siem Gwan Sing. Siem Swie Kiem merupakan cucu dari  Tjoa Thay Joe dan Mbak Wasih.

2. Lunpia Jalan Pemuda (Siem Swie Hie)

Lunpia di Jalan Pemuda ini sekarang lebih terkenal dengan lunpia Mbak Lien. Siem Siok Lien meneruskan usaha ayahnya, almarhum Siem Swie Hie, yang merupakan kakak dari Siem Swie Kiem. Kios lunpia Mbak Lien terletak di Gang Grajen, sebuah gang kecil di Jalan Pemuda.

Lunpia basah Mbak Lien

Lunpia udang, ayam dan spesial (campuran ayam dan udang) merupakan tiga jenis lunpia yang menjadi primadona. Mbak Lien sebagai generasi keempat memberikan sentuhan untuk lain lunpianya. Dia memberi campuran racikan daging ayam kampung sehingga menjadi ciri khas tersendiri.

3. Lunpia Jalan Mataram (Siem Hwa Nio)


Sama-sama sebagai generasi keempat dari Tjoa Thay Joe, lunpia Jalan Mataram dikelola oleh anak-anak almarhum Siem Hwa Nio yang merupakan kakak perempuan dari Siem Swie Kiem. Selain meneruskan usaha ibunya di Jalan Mataram, juga kios baru di beberapa tempat di Semarang, anak-anak almarhum Siem Hwa Nio ada yang membuka cabang di Jakarta. Ada juga cucu almarhum Siem Hwa Nio sebagai generasi kelima membuka kios lunpia sendiri di Semarang.

4. Lunpia Jalan Tanggamus (Ny. Mechtildis Tyastresna Halim)

Berbentuk bulat-bulat dengan cita rasa gurih menjadi ciri khas dari lunpia di Jalan Tanggamus ini. Lunpia ini bukan generasi dari Tjoa Thay Joe dan Mbak Wasih.

5. Lunpia Mantan Pegawai Jalan Pemuda

Sekarang mudah kita jumpai kios-kios lumpia di Kota Semarang. Beberapa diantaranya adalah mantan pegawai di Jalan Pemuda. Tentu saja lunpia mereka ini berbeda dengan lunpia generasi Tjoa Thay Joe. Walaupun secara kasat mata terkemas dengan kulit yang sama. Cita rasa dan harga juga pasti berbeda.

6. Lunpia Generasi Luar

Lunpia ini lahir dari tangan-tangan orang yang hobi kuliner. Mereka turut serta meramaikan bisnis lunpia yang menjadi primadona kota Semarang.

Tata Cara Menyantap Lunpia

Pada umumnya seporsi lunpia terdiri dari satu lunpia basah atau kering. Disajikan dengan pelengkap berupa saus kental (terbuat dari adonan tepung sagu, gula merah, bawang putih, garam, merica dan kecap), tunas bawang merah atau lokio, acar mentimun dan cabe rawit hijau. Sedangkan khusus lunpia Gang Lombok, dalam penyajiaanya terdapat tambahan daun selada segar. Lunpia bisa dinikmati sesuai selera masing-masing orang. Jika ingin merasakan lembut kulit lunpia berpadu dengan rebung bisa memilih lunpia basah. Tapi enggak akan menyesal juga mencicipi lezat dan renyahnya lunpia goreng. Saat menyantapnya, lunpia yang telah dipotong dicocol dalam saus kental dipadu padankan dengan lokio, cabe rawit hijau dan acar mentimun. Membuat cita rasa lunpia berpadu sempurna.

Kandungan Gizi Lunpia

Lunpia, jajanan yang banyak digemari oleh masyarakat ini berbahan dasar rebung, dengan campuran udang, ayam atau keduanya. Di beberapa tempat juga menjual lunpia dengan variasi lain, seperti kepiting atau tuna.

Berbicara kandungan gizi dengan penelitian pada lunpia seberat 100 gram, terdapat kandungan berupa :

Banyaknya Lumpia yang diteliti (Food Weight) = 100 gr 
Bagian Lumpia yang dapat dikonsumsi (Bdd / Food Edible) = 100 %
Jumlah Kandungan Energi Lumpia = 133 kkal
Jumlah Kandungan Protein Lumpia = 3,43 gr
Jumlah Kandungan Lemak Lumpia = 0,47 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Lumpia = 28,14 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Lumpia = 8 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Lumpia = 44 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Lumpia = 0,49 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Lumpia = 1 IU
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Lumpia = 0,04 mg
Jumlah Kandungan Vitamin C Lumpia = 1 mg

Selain itu masih juga ada tambahan gizi dari pelengkap lunpia berupa cabe rawit hijau, lokio dan acar mentimun. Ketiganya sangat bermanfaat untuk kesehatan. Cabe rawit hijau mengandung banyak vitamin dan mineral dan fitonutrisi. 

Untuk lokio atau daun bawang merah juga mengandung protein ferroportin, allicin, zat besi, polisulfida, vitamin (A, K, C), asam folat dan zat lain di dalamnya. Sedangkan mentimun yang digunakan untuk bahan acara mengandung vitamin (A,C,E,K), ektrolit, mineral serta antioksidan. 

Lunpia di Mancanegara

Lunpia tak hanya terkenal di Indonesia, dia juga ada di beberapa negara tetangga. Tentu saja ada beberapa bahan baku, teknik penyajian dan cita rasa yang berbeda dengan lunpia khas Semarang. 

Vietnam
Di negara ini lunpia disebut dengan Vietnamase Spring Roll. Terdapat dua jenis lunpia, yaitu gỏi cuốn (tidak digoreng) dan chả gio (digoreng). Gỏi cuốn terdiri dari daun selada, taoge, irisan wortel, udang, soun, daun ketumbar, daun bawang yang dibungkus dengan rice paper dan diberi sedikit air. Cara penyajiannya menggunakan saos dari campuran bawang putih, cabe merah, jeruk nipis, kecap ikan dan gula. Chả gio terdiri dari daging, udang, irisan jamur shitake, irisan wortel, beberapa bumbu khusus, yang dibungkus dengan rice paper dengan tambahan sedikit air dan dilapisi putih telur sebelum digoreng. Chả gio disajikan dengan saus minyak ikan. 

Filipina
Lumpiang Sariwa atau Fresh Spring Rolls adalah sebutannya untuk lunpia. Terdiri dari rebung yang telah dihancurkan, daging ayam, kacang halus, irisan bawang merah digulung dengan daun selada dan kuning telur yang didadar seperti crepes. Biasa dihidangkan dengan saus khusus dan irisan bawang putih yang masih fresh.

China
Terdapat dua jenis lunpia di negeri tirai bambu ini, yaitu spring rolls (lunpia shanghai) dan egg rolls. Spring rolls terdiri dari daging, campuran bawang, wortel, dan bumbu yang sudah diorak-arik dengan telur. Terkadang juga ditambahkan kacang polong dan disajikan dengan saos khusus. Spring rolls mempunyai diameter lebih kecil dibanding lunpia pada umumnya dan dinikmati pada musim semi.

Berbeda dengan spring rolls, untuk egg rolls sendiri terasa manis, berisi sayur-sayuran dan kacang merah. Egg rolls biasa dinikmati di daerah Timur China seperti Zhejiang dan Utara China.

Taiwan
Lunpia terkenal dengan nama Poh-piah. Dalam bahasa Mandarin disebut runbing. Poh-piah merupakan lunpia yang basah (tidak digoreng) dan paling banyak dikonsumsi. Dalam tradisi, lunpia basah adalah sajian selama festival makanan musim dingin dan musim panas untuk menghormati para leluhur. Poh-piah berisi sayuran yang digoreng dengan ditaburi kacang yang sudah dihaluskan. Untuk lunpia goreng lebih kecil dan crispy, tergantung proses memasaknya.

Australia
Di negeri kangguru, lunpia disebut chiko roll, yang merupakan westernisasi makanan Asia. Bentuknya menyerupai lunpia goreng. Perbedaannya chiko roll berisi irisan wortel, vermicelli noodles, daging sapi, yang diolah dalam mesin pembuat sandwich.

Mexico
Lunpia menjadi camilan yang digemari oleh masyarakat Mexico dengan menjadikannya sebagai teman berkumpul atau ngobrol. Ada lunpia goreng yang dikenal dengan chimichangas, dan lunpia tidak digoreng (basah) disebut burritos.

Belanda dan Swedia
Penduduk Belanda dan Swedia mengenal lunpia dari imigran Indonesia. Mereka lebih mengenal dengan sebutan "loempia". Loempia terdiri dari tauge, kacang, irisan telur, dan daging ham. Di Belanda sendiri loempia dijual di pedagang kaki lima, mobil boks atau kios-kios kecil. Dari segi isi terdapat jenis vegetarian, ayam dan daging. Penjual loempia di Belanda akan langsung menggoreng jika ada pembeli. Mereka menyajikannya dalam wadah kertas kecil beserta sambal.

Jerman
Frühlingsrolle adalah sebutan lunpia yang bisa dijumpai di rumah makan Asia (Rumah Makan China atau Thailand). Biasanya berupa lunpia vegetarian dengan ciri khas berbentuk kecil-kecil. Untuk lunpia juga dijual di supermarket dengan bentuk yang lebih besar. Lunpia di Jerman terdiri dari campuran rebung, wortel, taoge dan daun seledri.

Dari kiri ke kanan : lunpia mini, lunpia besar isi ayam, lunpia besar isi sayuran

Lunpia, salah satu makanan khas Semarang yang harus dilestarikan keberadaannya. Jangan sampai jajanan perpaduan budaya Tiong Hoa-Jawa ini tergerus oleh megahnya jaman. Menjadikan lunpia sebagai teman minum teh atau kopi di sore hari, snack rapat, jamuan di berbagai acara besar, adalah bentuk kepedulian terhadap makanan khas.

Penasaran akan lunpia khas Semarang yang legendaris ini? Yuk nikmati gurih dan lezatnya langsung di kota Atlas. Atau malah penasaran dengan cita rasa lunpia di mancanegara? Mari mencoba sesuai selera dan lakukan jelajah gizi yang terkandung pada masing-masing lunpia. 

Artikel ini disertakan dalam lomba Jelajah Gizi 3 yang diselengg
arakan oleh Sari Husada dengan tema "Makanan Daerah Yang Mendunia"



Sumber :
www.wikipedia.com
www.seputarsemarang.com
www.organisasi.org
www.food.detik.com
www.lumpiamini.wordpress.com
www.yukmakan.com
www.resepcaramemasak.org
Wawancara Mbak Irawati Prillia yang tinggal di Jerman (www.keluargapelancong.net)
Koleksi foto milik pribadi dan Mbak Irawati Prillia

Semarang, 13 Oktober 2015
Salam,

@tarie_tarr  

20 komentar:

  1. Lunpiaa, aku syukaaa sekaleee. DI Makassar ada juga lumpia, sama enaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mosok mak? Aku pernah nyobain yg kayak pastel. Enak gilaaa. Hihi

      Hapus
    2. Bener mbak Rahmi... lunpia Makassar juga enaaaak...

      Hapus
    3. Bener mbak Rahmi... lunpia Makassar juga enaaaak...

      Hapus
  2. Kirim sebesek ya taro, berhasil ngilerrrrr pagi-pagiii,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak mau ah. Mau ngasih kalau mba Ima ke sini aja :p

      Hapus
  3. Cewek kalem berjilbab??? *keselek loenpia :p

    Boleh dibilang sudah seabad ya usia loenpia ini. Dari namanya saja bisa diterka kalau pembuat pertamanya warga Tionghoa.

    Pertama kali makan loenpia enak di Semarang waktu di ajak Tari ke Loenpia Delight. Masih inget gimana rasanya yang enak itu. Makasih ya Tari sudah ngenalin aku ke makana lokal paling enak di Semarang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa kalem kan? *sogok lunpia*

      Hihi masama mba Rien. Kalau ke sini aku ajakin ke tempat aslinya pertama kali. Dijamin endeeesss

      Hapus
  4. idenya kereeen...semoga menang tarooo....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diaminkan aja ah. Makasih maakk :))

      Mefet deadlinenya kebangetan niih ^^

      Hapus
  5. Menaaaang ini maaaah....
    Good luck, Tari.
    Kalau memang bawa aku ke 6 titik penjual Lunpia di atas ya. Yeaaaaayyyy

    BalasHapus
  6. Lumpia makanan yang sangaat kusuka :)

    BalasHapus
  7. Di Surabaya kebanyakan lumpianya rasanya beda, gak kayak di semarang asli :((

    BalasHapus
  8. Kereeen, komplit bener ini. Moga sukses Taroooo <3

    BalasHapus
  9. yuk yuukk...mari kita rame2 ngelumpia :)

    BalasHapus
  10. Banyak banget ya manfaat lunpia. next time makan se besek sekalian biar tambah sehat nih tubuh.

    Alhamdullilah sudah cobain lunpia 1 dan 2. InsyaAllah klo ke Semarang pingin cobain yang selanjutnya....

    BalasHapus
  11. Makanan khas daerah saya :D wkwkwk

    BalasHapus
  12. Aku suka lunpiaaaaaa.... *kodekeras ;)

    BalasHapus
  13. Aku suka lunpiaaaaaa.... *kodekeras ;)

    BalasHapus
  14. lunpiaa duh enaaaak :D .. perlunpiaan isi manis atau asin atau pedes atau krenyes kriuk kriuk semua bakal enak :D

    BalasHapus