Sabtu, 09 Desember 2017

Trik Meyimpan Nomor Telepon Untuk Si Pelupa Akut

Trik Meyimpan Nomor Telepon Untuk Si Pelupa Akut


"Taro, ini pasti kelakuanmu. Makanan segini banyak ketinggalan di kantor," seru seorang teman kemarin pagi di grup khusus mbak-mbak rempong. Iyeee aku punya genk di kantor sekaligus grup yang rempongnya warbiyasak. Hahaha. Tapi sayang deh sama mereka.

"Ehhhhh iyaaa bener banget itu punyaku, Mbak. Huhuhu. Kelupaan semalam. Padahal udah tak siapin di meja. Baru ngeh pas sampai kos," jawabku penuh rasa bersalah. 

Malamnya aku memang kesel banget gegara lupa nggak bawa ransum alias jajanan sisa. Sayang banget kalau nggak sampai kemakan. Mau telepon satpam nggak punya nomernya. Alhamdulillah paginya masih ada teman lembur dan mau makan.

"Woh, dasar ya Tarochan. Masih aja nggak berubah. Udah disiapin rapi gitu di meja tetap aja lupa," sahut yang lain.

"Emang kan Tarochan gitu sukanya. Heboh nyiapin tapi ujung-ujungnya lupa."

Aku cuma meringis.

Senin, 04 Desember 2017

Pengalaman Belajar dan Berproses Bersama Bunga Noladika

Pengalaman Belajar dan Berproses Bersama Bunga Noladika


Jika banyak yang menuliskan guru-guru SD, SMP, SMA atau dosen saat kuliah, saya malah ingin mengenalkan ke kalian sesosok guru baru. Bunga Noladika namanya. Saya biasa manggilnya Kaka Bung. Bagi saya Kaka Bung adalah sesosok guru baru. Yang saya kenal saat berkegiatan di Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau beberapa bulan terakhir. Bekerja di satu divisi yang sama membuat saya belajar banyak dari sosok ini.

“Les, kamu salah attachment welcoming media ya?” sebuah pesan di whatsapp dari Kaka Bung muncul tengah malam saat saya tengah puyeng nyiapin ini itu karena esoknya akan berlayar ke Karimunjawa.

“Hah? Seriusan, Kak? Astagaaaaa! Aku telepon kakak sekitar sejaman lagi ya,” jawab saya tambah puyeng. Mungkin saat itu wajah saya kusut mirip baju yang nggak disetrika bertahun-tahun. Hahaha.

Sabtu, 02 Desember 2017

Bijak Berinternet dan Menggunakan Sosial Media

Bijak Berinternet dan Menggunakan Sosial Media


Beberapa waktu lalu kantor sempat heboh. Gosipnya ada yang dimutasi karena posting foto di media social saat liburan. Entah benar atau tidak, nyatanya saat yang berlibur pulang langsung dapat surat keputusan mutasi. Hanya selang sehari setelah masuk kerja. Beuh mantap ngerinya!

Sebenarnya percaya nggak percaya sama gossip itu sih. Banyak kemungkinan lain mengapa surat keputusan itu sampai dikeluarkan. Tetapi sebagai orang yang masih bergantung dengan media social, saya belajar banyak. Tidak semua hal harus diungkapkan. Tidak pula semua orang harus tahu apa yang sedang kita lakukan, sedang terjadi dan bagaimana perasaan saat ini. Terkadang memang ada hal-hal yang harus disimpan sendiri.

Jujur saya masih kesulitan untuk nggak membuang uneg-uneg di sosmed. Hiks. Terutama twitter. Dari sekian media social, twitterlah yang menjadi favorit saya. Dulu (dan sekarang masih) kalau kesal larinya ke twitter. Pokoknya suka banget ngoceh di sana. Abis itu lega sik tapi lama-lama nyesel juga. Nggak semua orang senang kan dengan cuitan itu? Nggak semua orang peduli dan paham gimana kondisi kita. Apakah sesuai dengan cuitan ataukah hanya drama sandiwara.

Senin, 30 Oktober 2017

Rumah Impian Embak Kantoran

Rumah Impian Embak Kantoran 


"Tau nggak sih aku suka berangan-angan kelak kalau punya rumah pengin yang berhalaman luas. Jadi anak-anak bebas main, aku bisa berkebun. Seru sekali kan?"

"Kalau aku malah pengin rumah yang kecil. Tapi semua udah lengkap. Kalau bersih-bersih nggak capek."

Obrolan tentang rumah impian pernah terlontar saat embak sedang dolan ke Sabang. Ditemani debur ombak dan camilan, embak dan Mamak Donna ngobrol ngalor ngidul dan rumah impian adalah salah satunya.

Terlahir dan tumbuh hingga SMA di desa membuat embak dulu suka mengkhayal punya rumah bertembok dan berpagar rapat. Hahaha. Efek suka lihat rumah tetangga yang kayak begitu sih selama perjalanan dari rumah ke sekolah. Waktu berlalu dan semenjak merantau khayalan zaman dulu terkikis dengan sendirinya. Embak justru kangen suasana kampung halaman. Rindu rumah yang tanpa pagar, berdinding kayu jati, punya perabotan berbahan kayu jati, bisa berkebun, dan berternak.

Tentang Mutasi di Akhir Tahun

Tentang Mutasi di Akhir Tahun


"Mbak Tari mau ke mana? Ini saya mau nyerahin surat," sapa sekretaris kantor saat kami berpapasan di lobby.

"Mau ke toilet, Bu. Surat? Buat saya? Atau buat bapak seperti biasa?" tanya embak penuh keheranan. Biasanya surat masuk masih harus melalui proses approval dari atasan baru nyampe ke embak.

"Ini surat buat Mbak Tari," ulang sekretaris sembari menyodorkan sepucuk amplop coklat dan meminta tanda tangan. Di buku jelas tertulis nama embak. Bukan surat masuk seperti biasanya.

Tertegun embak mengamati amplop coklat berkode masalah SDM. Tanpa nunggu komando dan babibu kesekian kali, tangan embak refleks membuka amplop tersebut. Deretan kalimat per kalimat embak baca dengan saksama. Sampai hampir lupa mengucapkan terima kasih saking herannya. "Makasih ya, Bu." 

Minggu, 29 Oktober 2017

Hobi dan Impian Kecil Untuk Sebuah Perpustakaan

Hobi dan Impian Kecil Untuk Sebuah Perpustakaan


Jika ditanya soal hobi, dari dulu jawaban embak masih sama. Jawaban yang seolah jadi template sejak masih berpakaian putih merah. Jika ada tambahan jawaban soal hobi, memang embak sedang melatih otak kanan biar agak jalan. Yeaahh, walau sampai sekarang otak kiri jauh lebih jalan sih. Tapi kata orang otak kanan itu harus sering-sering dilatih. Motivasi lain sih ingin seperti emak yang kreatifnya nggak ketulungan. Ada aja gitu yang bisa diciptakan emak. Entah dari barang bekas atau sengaja buat. Embak kan merasa tertantang gitu lhoo. Hahaha cetek banget ya motivasinya.

Kembali lagi ngomongin soal hobi.

Membaca.

Membaca apapun embak suka. Majalah, koran, tabloid, buku anak, novel, dan lain-lain. 

Membaca atau tepatnya menimbun buku?

Sabtu, 28 Oktober 2017

Ketinggalan Pesawat Pertama dan (Semoga) Terakhir Kali

Ketinggalan Pesawat Pertama dan (Semoga) Terakhir Kali


Cerita soal ketinggalan pesawat ini sudah lama banget. Empat tahun lalu alias tahun 2013. Pertama kalinya embak jalan bareng Mbak Dedew ke luar pulau. Berdua doank tanpa Alde dan Nai. Lombok menjadi tujuan kami. Sebuah pulau yang menawarkan keeksotisan bawah laut serta adat dan budayanya masih cukup kental. Jangan ditanya betapa excitednya kami. Sederet rencana telah dipersiapkan sebaik mungkin. Termasuk main ke rumah sobat, Cece Dian Kristiani. Di sinilah awal mula drama ketinggalan pesawat dimulai.

Owh ya, pada saat itu kami nggak cuma jalan berdua doank. Kami ramean bareng Muslimah Backpacker. Dulunya komunitas ini sering jalan bareng tapi khusus cewek-cewek gitu. Seru banget deh. Kegiatannya nggak cuma jalan-jalan doank tapi ada acara sosial juga. Sewaktu di Lombok kami mengadakan kegiatan sumbang buku untuk anak-anak di Gili Sudak.